DPRD Kota Makassar

Pegawai Kepulauan Dominasi Penumpang Pete-Pete Laut, Dishub Makassar Jajaki Rute Barrang Caddi

waktu baca 2 minutes
Jumat, 9 Okt 2026 12:00 0 10 Redaksi

MAKASSAR, TERASBERITA.NEWS – Kapal kayu Pete-Pete Laut milik Pemerintah Kota Makassar ternyata paling ramai di hari Senin pagi. Penumpangnya sebagian besar bukan warga umum, melainkan pegawai yang bertugas di wilayah kepulauan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, Muhammad Rheza, menyebut penumpang itu antara lain tenaga kesehatan, guru, pegawai kecamatan dan kelurahan, termasuk camat.

“Setiap Senin itu selalu dipenuhi pegawai-pegawai yang bekerja di sana,” kata Rheza, Senin (28/9/2026), seperti dikutip Berita Kota Makassar.

Warga umum belum menjadi pengguna dominan. Rheza mengatakan, pernah ada sekitar lima warga yang naik sekadar untuk menikmati perjalanan laut.

Dari sisi rute, layanan semula dirancang sampai Pulau Lanjukang. Dalam praktiknya, perjalanan lebih banyak berhenti di Pulau Lumu-Lumu karena minimnya peminat ke Lanjukang.

Menurut Rheza, warga pulau cenderung ingin transportasi yang tersedia kapan saja. Hal itu sulit dipenuhi kapal kayu yang tidak cepat dan jumlah penumpangnya tidak menentu.

“Warga maunya setiap saat ready, seperti angkutan mondar-mandir. Sementara kapal kayu tidak cepat dan jumlah penumpangnya juga tidak selalu sama,” jelasnya.

Karena itu, Dishub menjajaki Pulau Barrang Caddi sebagai tujuan baru karena jumlah penduduknya cukup banyak. Pada percobaan awal, belum ada penumpang yang memanfaatkan layanan ke pulau tersebut. Dishub telah menyosialisasikan jadwal melalui masjid-masjid di kepulauan dan kepada warga di dermaga Barrang Lompo.

“Kalau ternyata minat masyarakat bagus, kita akan rutinkan,” ujar Rheza, dikutip RRI.

Layanan ini sempat berhenti sekitar tiga pekan akibat kerusakan baling-baling yang dikenal dengan istilah “kepala babi”, sebelum kembali beroperasi.

Pemkot juga mengusulkan tambahan anggaran BBM dalam APBD Perubahan. Armada pemerintah wajib memakai BBM nonsubsidi, sementara harga Solar Dex disebut sempat mencapai sekitar Rp26 ribu per liter.

LAINNYA