

MAKASSAR, TERASBERITA.NEWS — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti dugaan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang disebut menjadi salah satu faktor antrean panjang di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia juga menyebut adanya peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi sebagai faktor yang menambah tekanan terhadap permintaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam kegiatan Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) di Jakarta. Pemberitaan ANTARA pada 15 September 2026 menyebut bahwa ia merujuk pada temuan kepolisian mengenai kendaraan yang tangki BBM-nya dimodifikasi untuk menampung bahan bakar dalam jumlah besar.
Menurut Bahlil, kondisi tersebut dapat memengaruhi distribusi BBM bersubsidi yang seharusnya disalurkan sesuai ketentuan dan diperuntukkan bagi kelompok pengguna yang memenuhi persyaratan.
BBM bersubsidi memiliki mekanisme penyaluran yang diatur agar bantuan pemerintah dapat digunakan sesuai sasaran. Apabila pengguna yang sebelumnya memakai BBM nonsubsidi beralih ke produk bersubsidi, permintaan terhadap produk tersebut dapat meningkat.
Peningkatan permintaan perlu diimbangi dengan pengawasan agar penyaluran tetap tepat sasaran. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan bahwa pembelian sesuai ketentuan, sementara distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang berhak.
Dalam situasi antrean, penting untuk membedakan antara persoalan ketersediaan pasokan, peningkatan permintaan, dan gangguan dalam proses pelayanan. Ketiganya dapat membutuhkan langkah penanganan yang berbeda.
Karena itu, evaluasi distribusi perlu menggunakan data penyaluran, pola konsumsi, serta hasil pemeriksaan lapangan. Informasi tersebut dapat membantu menentukan langkah yang diperlukan tanpa menggeneralisasi seluruh pengguna BBM.
Bahlil juga menyinggung temuan kendaraan yang tangkinya dimodifikasi agar dapat menampung BBM dalam jumlah jauh lebih besar daripada kapasitas standar. Dalam keterangannya, ia menyebut adanya kendaraan yang dapat membawa ratusan liter hingga sekitar satu ton BBM.
Modifikasi tangki untuk menampung bahan bakar dalam jumlah besar dapat menimbulkan persoalan terkait keselamatan, kepatuhan terhadap ketentuan distribusi, dan potensi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Meski demikian, dugaan pelanggaran terhadap kendaraan atau pihak tertentu harus ditindaklanjuti melalui pemeriksaan oleh aparat berwenang.
Penanganan yang tepat memerlukan bukti, pendataan, dan proses hukum sesuai aturan. Masyarakat juga perlu menghindari menyebarkan identitas atau tuduhan terhadap pihak tertentu tanpa informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Antrean di SPBU menjadi pengingat bahwa pengawasan distribusi perlu dilakukan secara konsisten. Pengawasan dapat mencakup pemeriksaan dokumen dan transaksi sesuai kewenangan, pemantauan pola pembelian yang tidak wajar, serta penindakan terhadap pelanggaran yang terbukti.
Di sisi lain, masyarakat membutuhkan pelayanan yang tertib dan informasi yang transparan. Ketika terjadi gangguan pasokan atau perubahan pola distribusi, informasi resmi dari pihak terkait dapat membantu masyarakat merencanakan kebutuhan tanpa bergantung pada kabar yang belum terverifikasi.
Pihak pengelola SPBU juga perlu menjalankan pelayanan sesuai prosedur. Kelancaran antrean, keselamatan pengisian, dan kepatuhan terhadap ketentuan penyaluran harus berjalan beriringan.
Dugaan penimbunan bukan satu-satunya faktor yang disebut dalam pernyataan Menteri ESDM. Peralihan konsumsi ke BBM bersubsidi juga disampaikan sebagai salah satu penyebab meningkatnya antrean di Makassar.
Dengan demikian, penanganan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan pasokan, menertibkan penyaluran, meningkatkan pengawasan, serta memperbaiki pelayanan di SPBU apabila ditemukan kendala operasional.
Bagi masyarakat, kepastian distribusi menjadi kebutuhan penting karena BBM menopang mobilitas warga dan aktivitas ekonomi. Kebijakan yang tepat sasaran dan pengawasan yang konsisten diharapkan dapat membantu mengurangi antrean sekaligus menjaga agar subsidi digunakan sesuai peruntukannya.